TENUN SUTRA
Wifqi Wifakul Azmi | Mei 13, 2024
Sejarah
Kain Tenun Sengkang merupakan tradisi hasil menenun turun-temurun yang dilakukan masyarakat asli kota
Sengkang, Sulawesi Selatan, sejak ratusan tahun lalu. Tepatnya di Desa Pakanna, Kecamatan Tanasitolo,
yang dikenal sebagai kampung penenun. Konon di Desa Pakanna dahulu, hampir diseluruh wilayah Kabupaten
Wajo dipenuhi oleh para petani ulet sutera, hingga pengrajin tenun sutera.Kain Tenun Sengkang merupakan
tradisi hasil menenun turun-temurun yang dilakukan masyarakat asli kota Sengkang, Sulawesi Selatan,
sejak ratusan tahun lalu. Tepatnya di Desa Pakanna, Kecamatan Tanasitolo, yang dikenal sebagai kampung
penenun. Konon di Desa Pakanna dahulu, hampir diseluruh wilayah Kabupaten Wajo dipenuhi oleh para petani
ulet sutera, hingga pengrajin tenun sutera.
Di masa lampau, kain tenun sengkang hanya dibuat terbatas untuk keperluan pribadi. Biasanya digunakan
untuk menghadiri hajatan atau pernikahan. Selain itu, kain tenun juga banyak digunakan saat hari raya
lebaran dan kebiasaan ini pun masih berlangsung hingga sekarang. Namun kini, Sulawesi Selatan memiliki
kemajuan sektor pariwisata. Sehingga kain tenun mulai diperdagangkan secara umum dan menjadi buah tangan
wisatawan Indonesia, maupun Mancanegara yang tengah berkunjung ke Sulawesi Selatan. Kain tenun sengkang
juga berperan dalam tradisi masyarakat Bugis untuk mendidik anak perempuan mereka zaman dahulu, karena
ada sebuah anggapan bahwa jika orang Bugis tidak pandai menenun, maka dianggap belum sempurna.
Filosofi
Filosofi yang terkandung pada tenunan kain sutra secara umum tidak terletak pada ragam hiasnya melainkan
pada warna.
*Warna merah atau hijau diperuntukan bagi kaum nigrat atau bangsawan
*Warna Muda dan lemnut seperti merah muda, hijau muda menandakan bahwa pemakainya adalah seorang gadis
remaja.
*Warna hitam hanya dipakai oleh para orang tua maupun wanita yang sudah berkeluarga.
*Warna putih digunakan oleh inang pengasuh yang berada dilingkungan kerajaan.
*Warna cerah seperti jingga menandakan bahwa pemaikanya adalah seorang janda.
Funfact
Kain tenun sengkang juga berperan dalam tradisi masyarakat Bugis untuk mendidik anak perempuan mereka zaman dahulu, karena ada sebuah anggapan bahwa jika orang Bugis tidak pandai menenun, maka dianggap belum sempurna.