RUMAH ADAT
Muhammad Dika Bima Satria | Mei 08, 2024
Sejarah
Banjar mempunyai rumah adat yang bernama bubungan tinggi, zaman dulu rumah ini merupakan rumah khusus
keluarga kerajaan, untuk bentuk rumahnya bagian atap menjulang lancip keatas. Rumah ini terbagi menjadi
beberapa konstruksi ruangan. Pertama ada pelataran yang merupakan sebuah ruangan dibagian depan,
biasanya terletak dibagian depan setelah pintu masuk tangga.
Kedua ada paciran, yang berfungsi
untuk ruangan penghubung, dan biasa juga digunakan untuk menyimpan beberapa alat pertanian. Ketiga yakni
panampik, untuk tempat menerima dan menyanjung tamu yang datang. Keempat, palindangan yang merupakan
bagian tempat untuk tidur dan beristirahat, lalu yang kelima ada padapuran yang merupakan bagian
belakang rumah lalu berfungsi untuk menyimpan perbotan alat masak sekaligus tempat masak.
Filosofi
Rumah adat Kalimantan Selatan bernama Bubungan Tinggi ini memiliki sejumlah filosofi yang unik dan sarat
makna. Rumah ini melambangkan perpaduan dunia atas dan dunia bawah. Itu tampak pada ukiran burung
enggang yang disamarkan pada bagian ujung garis lintang atap rumah yang melambangkan alam atas.
Sementara ukiran naga yang juga disamarkan melambangkan alam bawah. Ukiran naga terdapat di bagian ujung
penampih atau papan yang mengelilingi bagian bawah rumah. Ukiran sengaja disamarkan karena berdasarkan
ajaran agama Islam yang dianut oleh penduduk, tidak boleh mengukir makhluk bernyawa secara jelas.
Wujud rumah pun secara keseluruhan melambangkan pohon kehidupan, di mana pohon sendiri memiliki makna
keseimbangan dan keharmonisan antara sesama manusia, manusia dengan alam, dan manusia dengan Tuhan.
Rumah juga sengaja menghadap ke arah sungai, sebagai bagian dari kebudayaan sungai suku Banjar
yang mendiami Kalimantan Selatan. Sebab ada banyak fungsi sungai bagi suku Banjar, mulai dari sebagai
jalur transportasi hingga kebutuhan air minum.
Funfact
1.Digunakan Sebagai Istana Sultan
Rumah Bubungan Tinggi dahulu berfungsi sebagai bangunan Dalam Sultan yang diberi nama Dalam Sirap atau
rumah yang paling tinggi kastanya. Artinya, Sultan sebagai penguasa Banjar tinggal di sana. Kualitas dan
kemegahan seninya mencerminkan status sosial maupun status ekonomi pemiliknya.
2. Memiliki
Banyak Motif Floral
Selain memiliki beberapa motif binatang yang disamarkan, seperti motif burung dan naga, rumah Bubungan
Tinggi juga mempunyai bentuk-bentuk ornamen berupa ukiran bermotif floral. Ukiran tersebut terdapat pada
tiang, tataban, papilis, dan tangga. Bentuk dan seni ukir ini banyak mendapat pengaruh dari Agama Islam
yang melarang menggambar hewan hidup di bangunan rumah.
3. Memiliki Jumlah Anak Tangga Ganjil
Berbentuk rumah panggung, rumah adat Kalimantan Selatan memiliki tangga yang terletak di bagian depan
dan belakang rumah. Uniknya, jumlah anak tangga tersebut ganjil. Pengaruh ajaran Islam diyakini menjadi
alasan jumlah anak tangga di rumah adat Kalimantan Selatan ganjil.