BAJU ADAT
Muhammad Dika Bima Satria | April 09, 2024
Sejarah
Pakaian adat Kalimantan Selatan Baamar Galung Pancar Matahari merupakan pakaian adat yang juga digunakan untuk acara pernikahan, dimana baju tradisional ini sudah ada sejak abad ke-17. Dimana hingga saat ini baju adat tersebut masih sangat populer di kalangan masyarakat Banjar.
Filosofi
Baju adat ini terdiri dari unsur budaya Hindu dan juga Budaya Jawa. Baju ini juga sangat cocok apabila
digunakan oleh pengantin yang ingin tampil dengan gemerlap dalam pesta pernikahan nantinya.
Baju adat ini juga terdiri dari banyaknya bunga melati dan juga bunga mawar, hal tersebut dikarenakan
adanya perpaduan dari kedua budaya yang berbeda. Dimana budaya Jawa memberikan kesan gang cantik dengan
adanya kedua bunga dalam bentuk rangkaian tersebut dan juga memberikan efek memancar terhadap aura dari
pengantin yang menggunakannya.
Sedangkan unsur budaya Hindu ini bisa dilihat pada aksesoris mahkota yang digunakan serta tambahan kain
dengan motif naga dan juga kelabang. Masyarakat Banjar biasanya menyebut motif ini dengan nama
Halilipan.
Funfact
Keunikan lain dari pakaian ini yaitu karena perpaduan antara Budaya Hindu dengan Jawa, tapi justru jadi
pakaian adat di daerah Kalimantan yang berbeda pulau. Seperti halnya pakaian adat lain, Baamar Galung
Pancar Matahari terbagi menjadi dua, yaitu pakaian untuk wanita dan untuk pria. Untuk pakaian adat pria,
menggunakan kemeja lengan panjang dengan kerenda yang terletak di dada dan diselaraskan dengan jas tanpa
di kancing dan celana panjang. Di bagian pinggang juga terdapat kain dengan motif kelabang serta tali
wenang sebagai pengganti dan berfungsi sebagai ikat pinggang.
Sedangkan untuk pakaian adat wanita, menggunakan baju poko yang berlengan pendek dengan hiasan
manik-manik. Ada juga aksesoris yang bernama kida-kida. Kida-kida adalah aksesoris yang berbentuk
persegi lima. Aksesoris kida-kida ini berfungsi sebagai penutup dada dan sebagai hiasan.